Sayuran Hidroponik

Bercocok tanam dengan metode tanpa tanah, hidroponik.

Ceritanya, awal bulan puasa lalu saya dipersenjatai peralatan masak dasar seperti kompor, panci, wajan, spatula, dan beberapa bahan makanan. Konon, dengan memasak sendiri kita bisa jauh lebih hemat daripada jajan di luar. Selain itu, dengan memasak sendiri, kita juga paham kebutuhan kita, serta terjamin, terjamin halal dan terjamin kehigienisannya.

Sudah satu bulan berlalu, sampai saat ini, ada beberapa resep sederhana yang sudah diterapkan. Hasilnya memang tidak terlalu buruk namun juga masih jauh dibandingkan dengan rasa makanan yang ada di warung langganan saya. Selain rasanya, hal yang paling kentara memang hematnya. Nah, karena peralatan sudah ada, saya jadi kepikiran, kenapa tak menyiapkan bahan sendiri juga? Seperti sayur misalnya.

Kebetulan di halaman belakang rumah saya banyak tempat kosong terbuka. Sayangnya, hampir semua datarannya sudah ditutup dengan semen. Hal ini sedikit membuat ragu untuk menanam sayuran sendiri. Karena dengan begitu saya harus menyiapkan banyak pot beserta tanahnya untuk setiap bibit yang ditanam. Maka, alternatif yang paling praktis adalah bercocok tanam dengan metode hidroponik.

Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas.

Bererdar kabar burung, bercocok tanam dengan metode hidroponik itu mudah. Ya, bagi yang sudah berpengalaman tentu saja. Karena tak mau dibuat repot, alhasil saya membeli hidroponik kita yang ada di Tokopedia. Karena memang fokus saya adalah memanen sendiri sayur yang ditanam dan yang akan dimakan, serta skala produksi yang dibutuhkan juga masil kecil.

Saya harus merogoh kantong dan mengeluarkan uang sebesar Rp.160.000 untuk paket hidroponik tersebut, yang saya sangat yakin, kalau buat sendiri harganya pasti jauh lebih murah. Tapi, kembali lagi ke pernyataan saya di atas, saya tak mau dibuat repot. Itu saja. :)

Dari paket yang saya terima, terdapat beberapa alat dan bahan, antara lain:

  • Dua buah baki sebagai wadah air.
  • Rockwool sebanyak dua bungkus, cukup untuk 36 bibit.
  • Netpot sembilan buah + serabut sumbu.
  • Dua buah tutup baki sebagai tempat netpot dengan jumlah sembilan lubang.
  • Dua bungkus bibit, Kangkung dan Caisim.
  • Dua jenis nutrisi tambahan.
  • Panduan cara bertanam.

Alat dan bahan untuk bertanam

Tak ambil waktu lama, ketika barang tiba langsung saya praktekkan apa yang ada di buku panduan.


Fase Pertama (1 Juli 2016)

Bibit yang ada ditaruh dalam rockwool yang sudah dibasahi (tanpa diperas). Hal ini memancing agar bibit tumbuh, yang awalnya berupa biji menjadi kecambah. Dalam buku panduannya, dibutuhkan waktu kurang lebih 24-36 jam sampai dengan kecambah mulai tumbuh dan menampakkan daunnya. Nyatanya, saya butuh 2 hari untuk dapat mencapai tahap ini.

Bibit yang sudah dipindahkan ke rockwool

Oh ya, karena belum mendapat nutrisi khusus, maka rockwool harus selalu disemprot agar nampak basah dan bibit tak mati.

Fase Kedua ( 7 Juli 2016)

Bibit dalam rockwool yang awalnya berupa kecambah sudah mulai menampakkan daunnya. Dibutuhkan waktu empat sampai dengan lima hari agar bibit benar-benar siap ditaruh dalam gelas dan diletakkan di netpot dan baki. Total waktu yang saya butuhkan dari penaruhan bibit di rockwool sampai dengan dipindah ke baki adalah tujuh hari. Kangkung

Kangkung

Karena bibit sudah mulai tumbuh semakin besar, maka harus disediakan air bernutrisi yang ditaruh dalam baki. Untuk kemudian rockwool beserta bibitnya ditaruh di dalam netpot untuk diletakan di atas baki bersamaan dengan tutupnya.

Airnya sendiri diisi sekiatar enam liter untuk setiap bakinya, atau sebanyak 2/3 dari luas baki. Untuk setiap satu liter air, dibutuhkan 5 ml nutrisi, baik nutrisi A maupun nutrisi B.

Caisim

Berbeda dengan Kangkung yang lebih tegar, Caisim sedikit lebih sensitif terhadap sinar matahari. Bibit Caisim gampang layu jika terpapar sinar matahari terlalu lama. Saya sempat gagal menumbuhkan Caisim di rockwool pada percobaan pertama. Sehingga, saya menaruh ulang bibit Caisim pada rockwool yang baru per tanggal 5 Juli 2016.

Saat ini, daun-daun dari kecambah sudah mulai bermunculan dan mulai lepas dari biji. Butuh waktu sekitar 30-40 hari agar sayur tersebut dapat dipanen. Selama menunggu hasil panen, tentunya sayuran tersebut harus dirawat, dengan cara mengecek kadar keasaman air, menambah air jika sudah mulai berkurang, menambah nutrisi dan lain sebagainya. Kadang-kadang, saya bersihkan juga wadahnya agar nampak indah kalau dipandang. :D

Bersambung...