Camping di Pantai

Pengalaman pertama camping di pantai Yogyakarta.

Saat itu, 14 Januari 2014, saya dan beberapa teman kampus berniat mengadakan camping di pantai. Acara tersebut diadakan dalam rangka merayakan ulang tahun saya yang telat satu bulan dan ulang tahun Elisa yang terlalu cepat beberapa bulan. Camping tersebut juga bertujuan sebagai reuni alumni karena sudah tak berkumpul beberapa saat lamanya.

Sebenarnya, ini kali kedua camping di pantai. Camping pertama saya lakoni di Pantai Takisung, Kalimantan Selatan dalam rangka perpisahan Sekolah Menengah Pertama. Hanya saja, dalam camping tersebut beberapa alat seperti tenda sudah dipersiapkan dan tersusun rapi di pinggir pantai. Kita tinggal menggunakannya saja.

Berbeda dengan camping kali ini, yang mana segala kebutuhan harus dipersiapkan dan dibawa sendiri.

Beberapa Hari Sebelumnya

Dengan modal informasi seadanya yang bersumber dari internet, kami memutuskan untuk menancapkan tenda di Pantai Pok Tunggal di Gunung Kidul, DIY. Konon, pantai tersebut asik sebagai lahan untuk camping. Selain karena pemandangannya yang bagus, fasilitasnya juga lumayan lengkap.

Tak lupa juga bekal yang akan dibawa ke sana untuk menambah hangatnya suasana camping. Seperti bahan makanan berupa ayam mentah, tak ketinggalan juga panggangannya, ada juga jagung mentah yang siap untuk dibakar.

Beberapa peralatan lain pun sudah dalam masuk daftar, seperti senter, jas hujan, headlamp serta tenda.

%ads-link%

Hari H pun Tiba

Sore sudah tiba. Padahal, janjian untuk berkumpul diusahakan tidak terlalu malam. Belum lagi beberapa alat belum tersedia sepenuhnya. Tenda, ya, kami perlu ke rental alat outdoor untuk mendapatkannya. Bersumber dari internet juga, kami menemukan salah satu dari sekian banyak di Yogyakarta. Walau tanpa booking sebelumnya, masih tersedia alat yang dibutuhkan. Syukurlah, pikir saya.

Jarum jam menunjukkan pukul 20.00, beberapa teman masih dalam perjalanan menuju meeting point. Bikin khawatir. Dan yang lebih membuat khawatir adalah hujan sedari sore yang tak jua reda. Tidak terlalu deras memang, tapi cukup untuk membuat pakaian basah kuyup jika ngebut di bawah terpaannya.

Teman-teman sudah berkumpul. Sembari memeriksa ulang perbekalan, kami mendiskusikan tujuan semula. Beberapa di antaranya tak setuju, karena posisinya yang terlalu jauh. Belum lagi sepanjang perjalanan bakal diterjang hujan. Lebih parahnya, tak ada seorangpun dari kami yang pernah ke sana atau paham jalannya. Pilihannya cuma dua, tetap menuju pilihan semua atau acaranya batal sama sekali. kadung sudah persiapan banyak, dengan bekal konsistensi, modal nekat, dan GPS. Rencana awal kami jalani juga, tetap menuju Pantai Pok Tunggal.

Seperti yang diramalkan sebelumnya, sepanjang jalan Wonosari memang diterpa hujan. Sialnya, salah satu ruas jalan membuat kami tersesat jauh dari tujuan awal. Berharap GPS bisa membantu, kami masih tak menemukan jalur yang dituju. Kami sedikit menyerah.

Dengan kondisi kelelahan, hujan dan hari semakin malam, salah seorang teman yang bernama Janu alias DJ merekomendasikan pantai alternatif, masih sekitaran Gunung Kidul tentunya.

Lumayan jauh untuk kembali ke jalan utama, Jalur Lingkar Selatan di Gunung Kidul. Dari sana, kami memulai kembali menyusuri jalur lainnya untuk menuju pantai yang dimaksud oleh seorang teman saya.

Voila! Setelah menghabiskan tiga jam perjalanan dari Kota Yogyakarta, akhirnya tiba juga kami di pantai, Nguyahan namanya. Posisi pantai ini tidak terlalu jauh dengan Pantai Ngobaran.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sesampai di bibir pantai, hujan malah semakin deras. Kami berusaha untuk memasang tenda berharap dapat tempat berteduh. Dan tebak apa yang terjadi? Tak ada satupun dari kami yang berpengalaman memasang tenda dome. Kami terduduk lemas di salah satu warung warga yang tak berpenghuni, sampai akhirnya tertidur lelap di sana. zzzz… zzzz…

Sudah jam 03.00 dinihari, hujan juga mulai reda. Salah seorang teman saya bernama Ucup, berinisiatif memasang tenda. Setelah dicoba beberapa kali, akhirnya berhasil juga. Satu buah tenda terpasang, tenda berikutnya juga terpasang sempurna. Dengan kondisi masih mengantuk, semua teman dialihkan untuk tidur di tenda, tempat yang lebih hangat. Lantas, bakar-bakar ayamnya kapan? Bodo amat! Nunggu pagi aja, udah kadung lelah.


Subuh sudah tiba. Beberapa dari kami menyelesaikan ibadah sholat subuh. Inginnya, setelah itu menyaksikan matahari terbit, sayang mendung dari kemarin tak jua sirna.

Ketika matahari sudah mulai tinggi, beberapa pengunjung mulai berdatangan, kami memulai aktivitas yang tertunda yang seharusnya dilakukan tadi malam, bakar-bakar makanan untuk mengisi perut yang keroncongan sedari malam.

Yeah, benar-benar acara yang butuh perjuangan keras untuk menikmati hari libur. Waktu itu, sempat terpikir jera untuk camping lagi. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya camping dengan persiapan cukup matang, malah digoda oleh beberapa ujian. Eh Tapi, bukankah hal-hal seperti itu yang membuat acara tersebut menjadi lebih berkesan dan punya cerita? 😁

Kalian, punya pengalaman menarik apa? 😃