Solo Carnaval

Hari minggu lalu, 21 Februari 2016, diadakan Solo Carnaval di sekitar Stadion Sriwedari, Jalan Jenderal Soedirman. Acara ini sendiri diselenggarakan sebagai pelengkap acara Semarak HUT Kota Solo yang ke-271.

Berhubung tidak ada kegiatan, saya berkesempatan untuk mengabadikan beberapa momen di acara tersebut. Kegiatan karnaval seperti ini cukup menarik buat saya, karena kental dengan budaya daerah, serta kental dengan budaya Indonesia umumnya.

Selain karena ketertarikan akan show-off budaya tersebut, ajang ini biasa saya gunakan untuk meningkatkan skill dalam fotografi, yaitu ketepatan dan kecepatan mengambil momen serta melatih satu dari sekian banyak jalur dalam fotografi; Potrait.

Acaranya sendiri dibuka untuk umum, bisa dipastikan non-official fotografer alias pengunjung yang sok-sokan menjadi fotografer seperti saya kesulitan mengambil momen yang tepat dari lokasi yang nyaman. Biasanya, beberapa kali terhalang oleh petugas yang memberikan batasan pengunjung. Di sisi lain, juga berdesakan dengan anak kecil yang dengan tampang polosnya begitu penasaran untuk menyaksikan penampilan peserta karnaval.

Berikut galeri beberapa pertunjukkan yang ditampilkan dalam ajang Solo Canaval kemarin.

Berhubung kedatangan kami ke Solo terlalu cepat beberapa jam (acara dimulai jam 15.30), maka disempatkanlah untuk mampir ke beberapa tempat menarik di sekitar. Seperti Pasar Gede dan Masjid Agung Surakarta.

Di Pasar Gede sendiri, kami sempatkan untuk mencicipi beberapa makanan khas daerah. Yang menarik perhatian adalah Es Dawet Telasih dan Cabuk Rambak.

Cabuk Rambak seharga Rp.3.000 dengan bahan lontong, sambal kacang dan kerupuk

Oh ya, di tengah kesibukan saya mengambil beberapa foto, seorang pria mencolek pundak saya dari belakang sambil berkata:

Mas, kameranya saya pinjam ya, sama ambilin fotonya. Baterai kamera saya habis.

Hal ini cukup aneh buat saya, untuk kegiatan besar seperti ini (setidaknya menurut saya), masa tidak menyiapkan peralatan sama sekali? Baterai khususnya.

Saya cuma menjawab:

Oh ga usah mas, sama mau foto-foto sendiri aja

Dia cuma mengiyakan dengan penampakan sedikit kecewa. Lantas mengakhiri pembicaraan dengan berkata:

Oh yaudah mas, nanti kalo sudah selesai, saya minta file-nya yaa...

Duh, saya tidak menjawab.

Dalam benak saya, seenaknya saja minta hasil foto. Selain itu, saya masih merasa curiga dengan permintaan pertama dia. Saya sempat kepikiran kalau kameranya akan dibawa kabur, mengingat kondisi di sana begitu ramai, susah sekali mengidentifikasi seseorang yang baru kenal, walau bakal diikutin ke manapun dia pergi.

Sampai acara berakhir, dia tidak berusaha menemui saya untuk meminta berkas fotonya. :)