Biaya Servis Sepeda dan Harganya yang Tak Masuk Akal

Cerita awalnya, enam bulan yang lalu, aku berniat untuk memperbaiki dua buah sepeda. Satu jenis hybrid dengan merk Polygon Heist 2 keluaran tahun 2014, sedangkan yang lainnya merupakan sepeda lipat merk Fold-X.

Kendala yang dialami dengan sepeda hybrid tersebut adalah patah RD (Rear Delaurier) karena tersangkut rantai. Kalau dihitung, ini sudah kali kedua aku mengalami hal serupa dan terpaksa RD-nya harus diganti. Sedangkan untuk sepeda lipat tak ada kendala berarti, hanya servis berkala seperti penyetelan RD dan FD, rem, dan shifter.

Kaget tak kepalang jadinya ketika mendengar ongkos perbaikan dua buah sepeda tarifnya sebesar Rp.600.000.

Berhubung sepeda tersebut tidak bisa dikayuh dan harus dituntun, maka bengkel sepeda yang didatangi mestilah tak jauh dari tempat tinggal. Kebetulan, waktu itu domisiliku sekitar Jalan Kaliurang, tepatnya Pogung Lor. Berjarak sekitar 500 meter dari rumah, di daerah Pogung Baru, terdapatlah sebuah bengkel sepeda motor yang sekaligus melayani servis sepeda. Jadilah kedua sepeda tersebut aku titipkan di bengkel tersebut.

Kalau sebelumnya aku membeli sendiri RD yang akan dipasang di sepeda, kali ini tak mau dibuat repot. Aku pasrahkan untuk pembelian RD serta pemasangan pada montir (sekaligus pemilik bengkel). Beliau menyetujui, dengan syarat uang pembelian RD dibayar di muka. Tak masalah bagiku.


Lupa karena banyaknya kesibukan, sepeda tersebut tak diambil dari bengkel berminggu-minggu lamanya.

Ketika pertama kali aku datang ke bengkel tersebut dan menanyakan kondisi sepeda, pemilik sempat kebingungan, mungkin beliau lupa. Sejenak kemudian beliau baru menyadari dan berucap, “Oh, sepeda Heist dan sepeda lipat sebulan yang lalu itu ya?”. Aku mengiyakan. Betapa kagetnyanya ketika beliau mengatakan biaya servis sepeda senilai Rp.150.000 ditambah biaya penitipan sebesar Rp.600.000 untuk dua sepeda.

Aku terdiam sejenak, jantung berdegub kencang. Uang perkiraan yang disiapkan, ternyata jauh sekali kurangnya dari yang dipaparkan. Aku sempat bertanya, “Kok mahal sekali?”, sembari dalam hati selalu bertanya dan membandingkan, “Penitipan motor saja tak semahal ini!”. Hanya Rp.2.500 per harinya, nah ini untuk sepeda berkali lipatnya.

Aku mulai intropeksi diri, mungkin ini semacam denda karena aku lalai. Tapi tetap saja ada yang bergejolak dalam diri, semacam tidak terima karena harganya yang tak masuk akal.

Sang pemilik bengkel menanyakan, apakah sepedanya mau diambil saat itu juga? Kalau bersedia, sepedanya bakal diambil dari rumah dengan durasi kurang lebih setengah jam. Oh, aku baru sadar selama ini sepedanya tidak disimpan di bengkel apabila telah selesai diservis.

Mungkin, ada banyak pelanggan seperti aku yang lalai atau lupa untuk mengambil sepedanya sehingga membuat penuh ruang bengkel maupun di rumah beliau. Oleh karena hal tersebut, pelanggan yang lalai tersebut dikenakan denda yang nilainya jauh berkali lipat dibanding biaya servisnya. Aku mencoba merenung lagi, menganggap bahwa murni kesalahan pribadi. Hari itu, pengambilan sepeda aku tunda menjadi esok harinya karena memang uangnya tak cukup untuk membayar dendanya.

Malamnya, aku coba hubungi pemilik bengkel via telepon, berharap bisa negosiasi ulang untuk mendapatkan keringanan. Pemilik bengkel tetap pada pendiriannya, total harganya seperti yang dijelaskan beliau. Berat memang, susah ikhlas, tapi akhirnya diterima juga.

Besok harinya ketika akan mengambil sepeda, pemilik bengkel menawarkan agar sepeda lipat dijual saja untuk menutupi biaya denda. Taksiran harganya lumayan, sekitar Rp.400.000. Jadi, aku hanya menambah kekurangannya saja senilai Rp.200.000 ditambah biaya servis sebelumnya sebesar Rp.150.000. Aku menyetujui usulan tersebut, karena memang pada dasarnya, sepeda lipat tersebut diperbaiki dengan tujuan untuk dijual, jarang dipakai sebenarnya. Hanya saja, harga yang sudah disiapkan jauh lebih tinggi dibanding tawaran pemilik bengkel. Sepeda hybird Polygon Heist 2 tetap harus aku ambil dan bawa pulang, berapapun biayanya. Karena sepeda tersebut milik orang lain.

Sebelum aku melangkahkan kaki dengan gontai dan mengayuh sepeda, pemilik bengkel sempat berkata kalau biaya sewa bangnan 5×5 meter untuk bengkel tersebut cukup mahal, apalagi lokasinya di perumahan elit yang harga tanahnya sekarang berkisar 2 jutaan. Mahal biaya sewa, ditambah lagi dengan mahalnya uang keamanan komplek. Tapi, masa iya biaya sewa dikenakan sebagai denda pada satu orang saja? Aku?


Seminggu yang lalu, aku sempat melewati bengkel tersebut di daerah Pogung Baru. Kondisinya sudah rata dengan tanah disertai puing-puing bangunan. Mungkin sudah habis kontraknya, atau sudah pindah ke tempat yang lebih bagus dan murah, pikirku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *